Search
  • Merdeka Secretariat

West Papua advocates to commemorate 60th anniversary of Morning Star Flag Raising

Updated: Nov 26


Featured art by Peter Woods

Merdeka West Papua Support Network, Possible Futures, and the International Indigenous Peoples Movement for Self-Determination and Liberation, together with West Papuan grassroots activists, are organising a virtual gathering to commemorate the 60th anniversary of West Papua’s Flag Raising Day on 1st December 2021.


The event will be a space for West Papuans and supporters to understand together historical events that shaped West Papua’s present-day struggle for self-determination, and to explore various ways to support the struggle.


On December 1, 1961, the Morning Star Flag (Bintang Kejora) was raised for the first time as West Papua’s national flag in a symbolic declaration of the nation’s independence from the Netherlands. A few weeks later, Indonesia would then launch Operation Trikora initiating the start of its occupation of West Papua and the subsequent banning of the Morning Star Flag.


Marthen Manggaprouw of the West Papua National Authority and Petisi Rakyat Papua (Papuan People’s Petition) stated, “December 1 is a day of national awakening, a day on which the Papuan people openly express their political stance to the world, that the Papuan people are a free nation that has long inhabited the land of West Papua for generations, who have the right to freely determine their destiny in their own country.”


On the contrary, the Government of Indonesia perceives the Morning Star Flag as a symbol of separatism. Hundreds of West Papuans have been arrested for being in possession of the flag. One of them is activist and leader Sayang Mandabayan who was arrested without warrant in 2019, and subsequently charged with treason, for bringing a thousand Morning Star flaglets into a local airport.


For Sayang, West Papua’s Flag Raising Day is similar to how other independent countries would fly their own flags during their respective independence days. “We Papuans will fly the Morning Star Flag every year on December 1st, even if only in our hearts,” said Ms. Mandabayan, who is also a member of Front Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (National Front of Papuan Youth and Students).


This year’s Flag Raising activities revolve around the theme “Youth Rize for Land Rights”, inspired by strong resolve of the Papuan youth who have been at the forefront of various actions in defense of Tanah Papua (Land of Papua).


“The Papuan people, especially the younger generation, have a firm conviction in continuing the fight for the liberation and self-determination of the Papuan people and nation. The Papuan people need broad solidarity from various parties in Papua, Indonesia, and internationally,” said Mr. Manggaprouw.



This event will also be a soft launch of the West Papua Solidarity Gallery, which will officially open on 20th December 2021 at https://www.papua-merdeka.org to mark International Human Solidarity Day. The gallery shall feature artworks from Papuan artists as well as contributing artists from Indonesia, Australia, New Zealand, USA, United Kingdom, Kenya, Germany, and more.


Attendees are encouraged to donate when they can. All proceeds shall be donated in support of West Papuan political prisoners, internally-displaced and militarized communities, participation of grassroots activists in the online events, and other advocacy activities.


Pendukung Papua Barat memperingati 60 tahun Pengibaran Bendera Bintang Kejora


Jaringan Dukungan Papua Barat Merdeka (Merdeka West Papua Support Network), Possible Futures, dan Gerakan Masyarakat Adat Internasional untuk Penentuan Nasib Sendiri dan Pembebasan (IPMSDL), bersama dengan aktivis akar rumput Papua Barat, menyelenggarakan pertemuan virtual untuk memperingati 60 tahun Hari Pengibaran Bendera Papua Barat pada 1 Desember 2021.


Acara ini akan menjadi ruang bagi masyarakat Papua Barat dan para pendukungnya untuk bersama-sama memahami peristiwa sejarah yang membentuk perjuangan penentuan nasib sendiri Papua Barat saat ini, dan mengeksplorasi berbagai cara untuk mendukung perjuangan tersebut.


Pada tanggal 1 Desember 1961, Bendera Bintang Kejora (Bintang Kejora) dikibarkan untuk pertama kalinya sebagai bendera nasional Papua Barat dalam sebuah deklarasi simbolis kemerdekaan bangsa dari Belanda. Beberapa minggu kemudian, Indonesia kemudian akan meluncurkan Operasi Trikora yang memulai pendudukannya atas Papua Barat dan selanjutnya pelarangan Bendera Bintang Kejora.


Marthen Manggaprouw dari West Papua National Authority dan Petisi Rakyat Papua menyatakan, “1 Desember merupakan hari kebangkitan nasional, hari dimana rakyat Papua menyatakan sikap politik secara terbuka kepada dunia, bahwa rakyat Papua adalah bangsa bebas yang telah lama mendiami negeri Papua Barat secara turun temurun, yang memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri secara bebas di negerinya sendiri.”


Sebaliknya, Pemerintah Indonesia memandang Bendera Bintang Kejora sebagai simbol separatisme. Ratusan orang Papua Barat telah ditangkap karena memiliki bendera tersebut. Salah satunya adalah aktivis dan pemimpin wanita Sayang Mandabayan yang ditangkap tanpa surat perintah pada 2019, dan kemudian didakwa makar, karena membawa seribu bendera Bintang Kejora ke bandara setempat.


Bagi Sayang, Hari Pengibaran Bendera Papua Barat mirip dengan bagaimana negara-negara merdeka lainnya akan mengibarkan bendera mereka sendiri selama hari-hari kemerdekaan mereka masing-masing. “Kami Bangsa Papua pun akan mengibarkan Bendera Bintang Kejora setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, bahkan walau hanya di dalam hati,” kata Ibu Mandabayan yang juga anggota Front Nasional Mahasiswa Pemuda Papua.


Kegiatan Pengibaran Bendera tahun ini mengangkat tema “Pemuda Bangkit untuk Hak Atas Tanah”, yang diilhami oleh tekad kuat para pemuda Papua yang telah berada di garda terdepan dalam berbagai aksi membela Tanah Papua.


“Bangsa Papua terutama generasi muda, memiliki keyakinan yang teguh untuk terus memperjuangkan pembebasan dan penentuan nasib sendiri atas negeri serta rakyat bangsa Papua. Saat ini bangsa Papua membutuhkan dukungan solidaritas yang luas dari berbagai pihak, baik di Papua, Indonesia maupun Internasional,” kata Pak Manggaprouw.




Acara ini juga akan menjadi soft-launching West Papua Solidarity Gallery yang akan resmi dibuka pada 20 Desember 2021 di https://www.papua-merdeka.org dalam rangka memperingati Hari Solidaritas Manusia Internasional. Galeri akan menampilkan karya seni dari seniman Papua serta seniman yang berkontribusi dari Indonesia, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Inggris, Kenya, Jerman, dan banyak lagi.


Peserta didorong untuk menyumbang ketika mereka bisa. Semua hasil akan disumbangkan untuk mendukung tahanan politik Papua Barat, komunitas pengungsi internal dan militer, partisipasi aktivis akar rumput dalam acara online, dan kegiatan advokasi lainnya.