Textures Imbiri Circles.png

Solidarity
Gallery

Galeri
Solidaritas

Liberty Papua Leading the People
(After Delacroix)

Liberty Papua Memimpin Rakyat (setelah Delacroix)

Peter Woods, 2011

Australia, Oceania

Australia, Oseania

19 Liberty Papua Leading the People.jpg

Description / Keterangan

This painting was inspired by a long-time favourite painting of Eugene Delacroix celebrating the revolution of the people in France in early 19th century. My Papuan translation of the depiction of the overthrow of tyranny is a quarter the size of the Delacroix orginal! The people depicted in my painting are all real people, whether alive or dead. The heroine flying the Morning Star flag was on the outrigger canoe of asylum-seekers who braved the ocean to come to Australia in 2006 highlighting the struggle of the people. They all have their stories — like the man in the lower right hand corner, Yawan Wayeni. He was filmed as he was dying after being shot by Indonesian military whilst unarmed in his garden. The Youtube reports show he was defiant, brave and faithful to the end. The people are from real protests for freedom which happen on a regular basis. The bottom left figure cradled is from a military ‘trophy photo’ but I have turned it into a comfort image being given by the West Papuan leaders in exile. The spectre of the Freeport mine looms in the background behind the smoke, symbolising the wealth of the U.S. multinational and Indonesian financial greed for the resources of West Papua. Founding Indonesian President Soekarno's horrific statue, erected in Jakarta to laud the 'liberation' of 'West Irian' in 1963, is seen collapsing, the chains still binding the 'Papuan' supposedly depicted. The people hold each other, cultural symbols and peaceful weapons of protest.

Lukisan ini terinspirasi dari lukisan favorit lama dari Eugene Delacroix yang merayakan revolusi rakyat di Perancis di awal abad ke 19. Terjemahan penggambaran masyarakat Papua saya, mengenai penggulingan tirani adalah seperempat ukuran dari karya asil Delacroix! Masyarakat yang digambarkan dalam lukisan saya adalah masyarakat yang sesungguhnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Pahlawan wanita yang mengibarkan bendera Bintang Kejora adalah sebuah kano cadik suaka – pencari yang menantang lautan menuju Australia pada tahun 2006 yang menyoroti perjuangan masyarakat. Semuanya memiliki ceritanya – seperti seseorang yang berada di pojok kanan bawah, Yawan Wayeni. Dia digambarkan tewas setelah ditembak oleh militer Inodensia saat tak bersenjata di kebunnya. Laporan YouTube menunjukkan dia menentang; berani dan setia sampai akhir. Masyarakat dari protes nyata untuk kebebasan yang terjadi secara teratur. Sosok digendong yang berada di kiri bawah berasal dari “foto tropi” militer tetapi saya sudah mengubahnya menjadi gambar yang menyenangkan yang diberikan oleh para pemimpin Papua di pengasingan. Momok kebebasan tambang Freeport membayang dalam latar di belakang asap, menyimbolkan kekayaan finansial Indonesia dan multinasional AS menjadi serakah terhadap sumber daya alam West Papua. Penemuan patung mengerikan dari Presiden Soekarno, dibangun di Jakarta untuk memuja ‘pembebasan Irian Barat’ di tahun 1963, tampaknya runtuh, rantai yang masih mengikat masyarakat Papua yang seharusnya digambarkan. Orang-orang saling berpegangan, simbol budaya dan senjata protes damai.

Artist / Artis

Peter Woods

Year / Tahun

2011

Follow / Mengikuti

Location / Lokasi

Australia, Oceania

Australia, Oseania

Medium / Media

Diptych, oil on Belgian linen

Diptych, minyak pada linen Belgia

Support / Mendukung

-

Artist profile / Profil artis

Peter grew up in Sydney and majored in art at school. He completed theological studies, trained and worked as a residential care worker for incarcerated juveniles, for ten years worked as a lecturer in West Papua and Java in schools for pastors in training, and for 25 years served as an Anglican priest in Melbourne, Australia. In 2010 he began to paint full time at his studio in Bittern, Victoria. He has been engaged in public advocacy for the West Papuan cause for over twenty years which has also involved a number of return trips to West Papua. He has had three exhibitions of his paintings depicting the West Papuan struggle for independence and justice. He is married to Jeanette and has three grown up children and nine grandchildren.

Peter tumbuh di Sydney dan mengambil jurusan seni di sekolah. Dia menyelesaikan studi teologisnya, magang dan bekerja sebagai pekerja perawatan perumahan untuk remaja yang dipenjara, selama 10 tahun bekerja sebagai dosen di Papua Barat dan Jawa untuk pendeta dalam pelatihan, dan selama 25 tahun menjadi pelayan pendeta Anglikan di Melbourne, Australia. Pada tahun 2010, dia mulai melukis secara penuh di studionya di Bittern, Victoria. Dia telah terlibat dalam advokasi publik untuk perjuangan Papua selama lebih dari 20 tahun yang juga melibatkan sejumlah orang yang kembali ke West Papua. Dia telah melakukan 3 pameran lukisan yang menggambarkan perjuangan rakyat West Papua demi kebebasan dan keadilan. Dia menikahi Jeanette dan memiliki 3 anak dan 9 cucu.

Textures Imbiri Circles.png