Textures Imbiri Circles.png

Solidarity
Gallery

Galeri
Solidaritas

Execution West Papua 1961 - 2011
(After Goya)

Eksekusi West Papua 1961 - 2011 (setelah Goya)

Peter Woods, 2011

Australia, Oceania

Australia, Oseania

20 Execution West Papua 1961 - 2011.jpeg

Description / Keterangan

In 1814 the Spanish painter Francisco de Goya painted what has been called the first modern painting, Third May 1808 - Madrid Executions on Mount Principe Pio, and I have sought to translate the shock of that painting into a West Papuan setting. Goya's revolutionary work was a patriotic statement commemorating Spanish resistance to French control and the reprisals meted out to the rebels. Over the last fifty years thousands of West Papuans have been shot, bombed, poisoned, drowned, starved, dropped from helicopters at sea, run over, strangled, burnt, imprisoned, tortured, raped, driven homeless into jungle and subjected to a regime of fearful intimidation since the Indonesian Government established military control in West Papua. I included the former Indonesian President Yudhoyono in the firing squad which is executing the Papuans because the guilt for such a consistent program of oppression must lie at the feet of the political regime. No mere 'rogue elements' of soldiers or police can perpetuate unrelenting horror and repression for fifty years without this being a state orchestrated policy. In the background I have placed the machinery of where the money and motivation supporting the regime and the military elites lies: in the Freeport-McMoran mine. As the people say, Indonesia wants what Papua posseses, not the Papuans. I have placed a woman at the centre, a prophetess crying aloud to those who would listen and condemning the state-sanctioned murders.

Pada tahun 1814 pelukis Spanyol Francisco de Goya melukis apa yang disebut dengan lukisan modern. Tanggal 3 Mei tahun 1808 – eksekusi Madrid di Gunung Principe Pio, dan saya berusaha untuk menerjemahkan goncangan lukisan itu ke dalam latar West Papua. Karya revolusioner Goya adalah pernyataan patriotik memperingati perlawanan Spanyol terhadap kontrol Perancis dan pembalasan yang dijatuhkan kepada pemberontak. Lebih dari 50 tahun ribuan masyarakat Papua ditembak, dibom, diracuni, ditenggelamkan, dibuat kelaparan, dijatuhkan dari helikopter ke dalam laut, dilindas, dicekik, dikubur, dipenjarakan, disiksa, diperkosa, dipaksa menjadi tunawisma ke dalam hutan dan menjadi sasaran intimidasi rezim yang menakutkan sejak pemerintah Indonesia membangun kendali militer di West Papua. Saya menyertakan mantan presiden Indonesia Yudhoyono dalam regu tembak yang mengeksekusi rakyat Papua karena kesalahan untuk program penindasan yang konsistern seperti itu harus berada di kaki rezim politik. Tidak ada lagi unsur penipu dari polisi dan tentara yang bisa mengabadikan horor-horor dan tekanan tanpa henti selama 50 tahun tanpa ini menjadi kebijakan yang diatur negara. Pada latar belakang saya tempatkan mesin dimana uang dan motivasi yang mendukung rezim dan elit militer berada: di pertambangan Freeport-McMoran. Seperti yang orang-orang katakan, Indonesia menginginkan yang Papua miliki, bukan Papua-nya. Saya menempatkan seorang wanita di tengah, seorang peramal wanita yang menangisi orang-orang yang akan mendengarkan dan mengutuk pembunuhan yang dilegalkan negara.

Artist / Artis

Peter Woods

Year / Tahun

2011

Follow / Mengikuti

Location / Lokasi

Australia, Oceania

Australia, Oseania

Medium / Media

Oil on Belgian linen

Minyak pada linen Belgia

Support / Mendukung

-

Artist profile / Profil artis

Peter grew up in Sydney and majored in art at school. He completed theological studies, trained and worked as a residential care worker for incarcerated juveniles, for ten years worked as a lecturer in West Papua and Java in schools for pastors in training, and for 25 years served as an Anglican priest in Melbourne, Australia. In 2010 he began to paint full time at his studio in Bittern, Victoria. He has been engaged in public advocacy for the West Papuan cause for over twenty years which has also involved a number of return trips to West Papua. He has had three exhibitions of his paintings depicting the West Papuan struggle for independence and justice. He is married to Jeanette and has three grown up children and nine grandchildren.

Peter tumbuh di Sydney dan mengambil jurusan seni di sekolah. Dia menyelesaikan studi teologisnya, magang dan bekerja sebagai pekerja perawatan perumahan untuk remaja yang dipenjara, selama 10 tahun bekerja sebagai dosen di Papua Barat dan Jawa untuk pendeta dalam pelatihan, dan selama 25 tahun menjadi pelayan pendeta Anglikan di Melbourne, Australia. Pada tahun 2010, dia mulai melukis secara penuh di studionya di Bittern, Victoria. Dia telah terlibat dalam advokasi publik untuk perjuangan Papua selama lebih dari 20 tahun yang juga melibatkan sejumlah orang yang kembali ke West Papua. Dia telah melakukan 3 pameran lukisan yang menggambarkan perjuangan rakyat West Papua demi kebebasan dan keadilan. Dia menikahi Jeanette dan memiliki 3 anak dan 9 cucu.

Textures Imbiri Circles.png